Kebahagiaan sejati dalam hidup ini sebenarnya bersumber dari ketenangan hati, kedamaian jiwa, dan kestabilan pikiran. Namun sangat disayangkan masih banyak manusia yang mencari kebahagiaan di luar dirinya. Allah SWT, degan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, telah menunjukkan jalan singkat namun mendalam menuju kebahagiaan sejati. Petunjuk tersebut tidak hanya membawa manusia pada kebahagiaan saja, tetapi juga melindungi mereka dari berbagai penderitaan batin seperti kegelisahan, kekacauan, kepanikan, ketakutan berlebihan, keraguan, dan ketidakpastian. Semua kondisi negatif ini adalah penghalang utama bagi seseorang untuk merasakan kebahagiaan. Sebagaimana pernyataan Allah dalam QS. Ar-Ra’du:28:

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS.Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai ketenangan dan kedamaian batin yang abadi adalah melalui dzikir atau mengingat Allah. Zikir yang dimaksud tidak terbatas dengan melantunkan kalimat tayyibah dan asma Allah, tapi juga mendirikan salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, maupun mentadabburi kebesaran-Nya.

Begitu agungnya mengingat Allah, sehingga keutamaannya pun ditegaskan langsung oleh Allah dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «قال الله عز وجل : أنا عند ظنِّ عَبدي بي، وأنا معه حيث يَذكُرني، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ(

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadis di atas adalah jaminan Allah kepada hamba-hamba-Nya bahwa siapa saja yang mengingat Allah, maka sudah pasti Allah mengingatnya. Jika seseorang sudah dalam ingatkan Allah, maka tidak ada kekhawatiran di dalam jiwanya karena dunia dan seisinya sudah berada dalam genggamannya.

Keutamaan Balasan Zikir: Sebuah Anugerah Tak Terhingga

Betapa luasnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba yang mengingat-Nya, selain mendapatkan anugerah ketenangan jiwa, terhindar dari berbagai duka, Allah akan menyebutkan nama mereka di hadapan para malaikat, di sisi lain, Allah juga mengangkat derajat mereka setiap kali mengingat Allah. Ini adalah sebuah kehormatan yang tak terhingga, sebuah pengakuan ilahi yang menegaskan nilai dan kedudukan hamba tersebut di sisi-Nya.

 Kemudian di dalam Al-Qur’an, orang-orang yang mengingat Allah disebut sebagai Ulul al-Bab (orang yang memiliki akal sehat) sebagaiman yang termaktub dalam QS. Ali-Imran [3]: 190-191:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ  190 ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ 191

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali Imran [3]: 190-191)

Mengapa orang-orang yang mengingat Allah disebut sebagai Ulul al-Bab atau orang-orang yang berakal? Hal ini karena alam semesta yang terbentang sangat luas dan indah adalah wujud paling nyata dari kekuasaan Allah, namun sangat disayangkan kebanyakan manusia hanya melihat alam semesta sebagai simbol keindahan tanpa tahu tujuan dari penciptaannya. Sedangkan mereka para Ulul al-Bab tidak hanya mengagumi keindahan alam semesta, tapi juga merenungi bahwa betapa dahsyatnya ciptaan Allah sehingga tidak mungkin penciptaan yang maha dahsyat tersebut diciptakan tanpa maksud dan tujuan. Perenungan seperti ini adalah ibadah yang sangat mendalam dan menjadi ciri khas dari para wali Allah. Siapa saja yang telah sampai pada level ini berarti dia telah memahami makna kehidupan sejati dan  akan memperoleh ketenangan jiwa.

Ayat di atas juga menjelaskan bahwa berzikir tidak hanya dilakukan di atas sajadah, tapi juga bisa dilakukan di berbagai kondisi seperti, berdiri, duduk dan berbaring. Ini menunjukkan bahwa zikir bukanlah aktivitas yang terikat waktu atau tempat, melainkan aktivitas hati yang berusaha untuk selalu terhubung dengan Sang Pemilik Hati yang pada akhirnya menghantarkan seseorang pada kebahagiaan sejati.

Bahaya Melupakan Dzikir Allah

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Allah memberi ganjaran yang berlipat ganda kepada siapa saja yang mengingat-Nya. Dan sebaliknya, Allah memberi peringatan yang sangat keras bagi mereka yang lalai dan melupakan Allah. Tidak hanya itu bahkan Allah melarang hamba-hamba-Nya untuk menjauh, berpaling, dan tidak menaati mereka yang lalai dari mengingat Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi [17]: 28:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Lalu, dalam QS. An-Najm [53]: 29, Allah berfirman:

فَأَعْرِضْ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

Artinya: “Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi.”

Mereka yang lalai dari mengingat Allah tidak akan merasakan keagungan tanda-tanda dan sifat-sifat Allah. Maksudnya, ketika orang-orang yang lalai mengingat Allah ditimpa musibah mereka tidak memiliki tempat mengadu dan berlindung sehingga dunia teras sempit, pikiran-pikiran buruk terus menghantui mereka dan akhirnya berujung pada keputusasaan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam QS. Taha [20]: 124:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

 Artinya: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”

Mengapa Allah memerintahkan kita menjauhi orang-orang yang lalai mengingat Allah? Hal ini karena sebagaimana kebaikan akan menular bagi orang-orang di sekitar, maka sama halnya dengan keburukan ia akan mempengaruhi orang-orang di sekeliling. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang telah dianugerahi akal oleh Sang Pencipta sudah sepatutnya manusia menggunakan akalnya untuk memikirkan apakah lingkungan dan relasi pertemanan saat ini mempengaruhi kedekatannya dengan Sang Pencipta?. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *