Agama Islam adalah agama yang sempurna. Ia tidak hanya mengatur bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya agar meraih kebahagiaan akhirat, tetapi juga menata hubungan antar sesama manusia agar bisa hidup berdampingan di dunia. Harmoni ini hanya bisa terwujud jika setiap individu saling menjaga dan menghormati hak satu sama lain. Rasulullah SAW sebagai sosok teladan sekaligus pemimpin negara, berhasil menciptakan lingkungan masyarakat yang damai dan penuh tolong-menolong dalam keberagaman. Mari melihat lebih jauh ajaran luhur yang beliau tanamkan di hati para sahabat yang terus relevan hingga saat ini.
Landasan Cinta dalam Islam
Salah satu pilar penting dalam membangun keharmonisan adalah rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama. Hal ini dipertegas dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
عن أبي حمزة أنسِ بن مالك رضي الله عنه، خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يؤمن أحدكم، حتى يحبَّ لأخيه ما يحب لنفسه (رواه البخاري و مسلم)
Artinya: Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa mencintai saudara seiman kita dengan tulus adalah salah satu sya’bu al-iman (cabang keimanan) atau sifat keimanan yang harus dimiliki seorang muslim untuk mencapai tingkat keimanan yang sempurna. Dari penjelasan hadis tersebut dapat dipahami bahwa maksud dari “tidak beriman” dalam hadis tersebut dan hadis lainnya yang serupa dengan hadis di atas, bukan penafian iman seutuhnya melainkan penekanan pada kesempurnaan iman.
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di atas juga mengajarkan manusia untuk melatih hati agar ikut merasa bahagia saat orang lain bahagia, bukan sebaliknya. Selanjutnya, hadis tersebut juga memerintahkan kita untuk mengharapkan kebaikan yang kita inginkan bagi diri sendiri agar juga terwujud bagi orang lain. Hal ini merupakan refleksi dari prinsip solidaritas yangdiajarkan agama Islam.
Cinta yang Melampaui Batas
Perintah mencintai sesama seperti yang termaktub dalam hadis di atas, memiliki cakupan yang lebih luas dari sekadar ikatan keimanan, yaitu mencakup seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan agama. Oleh karena itu, seorang Muslim harus ikut merasa bahagia melihat saudara-saudara non-muslim bahagia, setara dengan rasa bahagia melihat saudara seiman. Bahkan di dalam ajaran agama Islam, kita diperintahkan untuk mendoakan saudara non-muslim agar Allah menganugerahkan mereka keimanan dan keindahan Islam. Hal ini senada dengan hadis Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:….. وأحبَّ للناس ما تحب لنفسك تكن مسلما …
Artinya: Dari Abu Hurairah Ra beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: …. “Dan cintailah untuk manusia apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang muslim.”
Kita bisa perhatikan bagaimana perintah mencintai dalam hadis ini datang dengan bahasa yang sangat universal: “cintailah untuk manusia.” Ini jelas menunjukkan bahwa Rasulullah tidak membatasi kasih sayang hanya untuk kalangan Muslim, melainkan untuk seluruh insan.
Di antara pemahaman hadis ini juga, seorang Muslim dituntut untuk membenci segala keburukan yang terjadi pada orang lain, sebagaimana dia tidak suka hal itu terjadi pada diri sendiri. Misalnya, kita tidak suka digunjing atau diadu domba, maka kita pun harus membenci hal tersebut terjadi pada saudara kita. Ini adalah bentuk manifestasi cinta dan kepedulian yang mendalam.
Pada akhirnya kita bisa memahami bahwa konsep mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri bukan sekadar doktrin agama Islam; ia adalah paradigma fundamental yang esensial untuk membangun masyarakat madani, damai, dan diberkahi. Ini merupakan prinsip universal Islam yang tak lekang oleh waktu, relevan di setiap sudut bumi, dan abadi sepanjang masa yang diajarkan Baginda Rasulullah. Wallahu’alam.