Pernahkah kita bertanya mengapa sebagian orang seakan terus dihujani nikmat, sementara sebagian lain terus merasa kekurangan dan kurang bahagia? Jawabannya mungkin ada pada satu konsep yang sering kita dengar, namun jarang diaplikasikan dalam hidup, yaitu syukur.

Syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan sebuah filosofi hidup yang memiliki kekuatan luar biasa untuk menarik keberkahan. Allah SWT telah menegaskan janji-Nya dalam firman-Nya yang agung QS. Ibrahim [14]: 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.

Ayat ini berkenaan tentang pembebasan Bani Israil dari kekejaman Firaun. Allah mengingatkan mereka  jika mereka mensyukuri nikmat kebebasan dan nikmat-nikmat lain yang telah Allah berikan kepada mereka, maka Allah pasti melipatgandakan berbagai nikmat kepada mereka, namun sangat disayangkan Bani Israil menolak tawaran Allah. Walaupun ayat ini secara spesifik merujuk kepada Bani Israil, akan tetapi ketetapan hukumnya berlaku secara universal, termasuk kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Ayat 7 dibuka dengan  sebuah proklamasi ilahi yang dapat dipahami dari  kata  تَأَذَّنَ (ta’addzana). Kata ini merupakan sighah mubalaghah yang menunjukkan penegasan yang sangat kuat, seakan-akan Allah SWT ingin memastikan bahwa setiap hamba-Nya mendengar pesan yang akan disampaikan, yaitu sebuah janji pasti yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya bahwa jika seorang hamba bersyukur pasti Allah akan menambahkan nikmat-Nya.

Definisi Syukur dan Cara Bersyukur

Seperti yang terlah dijelaskan sebelumnya bahwa syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, melainkan tarbiyatu al-Qulub dalam artian syukur adalah aktivitas hati yang terpancar melalui perilaku, seperti pengakuan hati atas nikmat-nikmat Allah kemudian memuji Allah atas nikmat yang diperoleh dan menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Allah SWT. Perlu ditegaskan bahwa rasa syukur tidak tercipta melalui kebahagiaan, tidak pula tercipta  karena terpenuhi segala keinginan—syukur tercipta melalui kemampuan menghargai nikmat yang besar maupun kecil yang diberikan Allah bahkan di tengah kekurangan sekalipun.

Rasulullah mengajarkan umatnya agar tetap bersyukur walaupun untuk hal-hal yang kecil:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا (رواه مسلم).

 Artinya: Dari Anas bin Malik Ra meriwayatkan: Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha pada seorang hamba ketika dia menyantap makanan lalu dia memuji Allah atas makanan itu atau ketika minum lalu dia memuji Allah atas minuman itu.” (HR. Muslim).

Syukur yang Nabi Muhammad Saw jelaskan pada hadis di atas sangat sederhana yaitu rasa syukur terhadap makanan dan minuman yang diperoleh. Walaupun hal tersebut sangat sederhana di mata manusia, tapi ia mampu mendatangkan ridha Allah karena sesungguhnya Allah tidak melihat pada kuantitas suatu amalan, melainkan pada kualitas hati seorang hamba. Maha Baik Allah dengan agama yang teduh dan menenangkan ini.

Mengingkari Nikmat: Pembangkangan yang Berbahaya

Jika Allah melimpahkan nikmat yang sangat besar kepada hamba-Nya yang bersyukur, maka sebaliknya, Allah akan mengazab orang-orang yang kufur terhadap nikmat-Nya. Kufur nikmat adalah mengingkari atau tidak bersyukur terhadap nikmat Allah. Dalam pemahaman yang lebih dalam luas, kufur terhadap nikmat Allah bukan hanya tentang tidak berterima kasih, tetapi juga bentuk pembangkangan seorang hamba kepada Tuhannya karena menyalahgunakan amanah, menggunakan nikmat Allah untuk hal-hal yang dilarang syariat, membuang-buang potensi, atau bahkan tidak menyadari keberadaan nikmat tersebut. Pada ayat di atas ditegaskan bahwa Allah akan memberikan azab yang sangat pedih kepada siapa saja yang kufur terhadap nikmat-Nya. Semoga kita termaksud orang-orang selalu bersyukur terhadap nikmat Allah. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *