Wahai Jiwa yang Tenang, Pulanglah ke Surga: Sebuah Refleksi Akhirat
Pernahkah terlintas dalam benak kita, bagaimana akhir dari perjalanan hidup ini? Bagi seorang muslim, ada sebuah janji agung yang begitu menenangkan, yaitu panggilan bagi jiwa yang tenang, yaitu an-nafs al-mutmainnah. Panggilan ini adalah sebuah undangan mulia dari Sang Pencipta menuju tempat kembali yang penuh kebahagiaan abadi.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠
Artinya: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Ayat-ayat di atas adalah puncak harapan bagi setiap mukmin. Lalu kapan panggilan ini akan tiba? Menurut Imam As-Suyuthi, panggilan wahai jiwa yang tenang terjadi saat seorang mukmin yang taat kepada Allah menghadapi sakaratul maut, sebagai bentuk ajakan kembali kepada Tuhan-Nya. Pendapat ini diperkuat oleh sebuah hadis dari Sa’id bin Jubair:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: قَرَأْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ: ﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴾ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنْ هَذَا حَسَنٌ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ﷺ: “أَمَا إِنَّ الْمَلَكَ سَيَقُولُ لَكَ هَذَا عِنْدَ الْمَوْتِ”
Artinya: “Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: Aku membaca di hadapan Nabi ﷺ ayat: ‘Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya.’ Kemudian Abu Bakar, semoga Allah meridainya, berkata: ‘Sungguh ini indah sekali.’ Lalu Nabi ﷺ bersabda kepadanya: ‘Ketahuilah, sesungguhnya malaikat akan mengatakan hal ini kepadamu saat kematian menjemput.'” (HR. Ibnu Majah, Hadis Hasan)
Namun Ibn Abbas memilik pandangan yang berbeda yang diriwayatkan oleh Hasan Al-Aufi bahwa panggilan jiwa yang tenang tidak terjadi ketika sakaratul maut, melainkan ketika hari pembalasan. Menurut Ibn Abbas, kata rabbika pada QS. Al-Fajr: 27, bermakna shahib (pemilik), maksudnya Allah memanggil ruh para mukmin untuk kembali kepada pemiliknya yaitu tubuh. Hal ini karena ketika di kehidupan dunia ruh adalah pemilik dari tubuh. Dan setelah ruh kembali pada tubuhya, kemudian Allah mempersilahkan mereka masuk ke dalam syurga.
Kedua pandangan ini tidak saling bertentangan secara esensi, melainkan menunjukkan betapa istimewanya jiwa yang tenang di hadapan Allah, baik saat detik-detik terakhir kehidupan dunia maupun saat kebangkitan menuju keabadian. Ketenangan jiwa ini hanya bisa diraih dengan ketaatan, kepasrahan, dan keyakinan teguh kepada Allah.
Surga: Kenikmatan Abadi yang Tak Terlukiskan
Setelah jiwa yang tenang kembali kepada pemiliknya, mereka akan ditempatkan di sebuah tempat keabadian yang penuh dengan kenikmatan dan kesempurnaan yang tiada tara, yaitu surga. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Sungguh, negeri akhirat pasti lebih baik. Itulah sebaik-baik tempat (bagi) orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 30)
Menggambarkan surga dengan segala kenikmatannya secara utuh adalah sebuah kemustahilan bagi manusia. Seberapa fasih pun seorang ahli retorika berbicara, atau seberapa mutakhir teknologi yang digunakan, gambaran surga secara sempurna tetap berada di luar jangkauan akal manusia. Mengapa demikian? Karena Allah menegaskan melalui lisan Nabi Muhammad bahwa surga adalah sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia. Sebagaimana hadis Qudsi di bawah ini:
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: (قال الله: أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر)؛ قالَ أبو هُرَيْرَةَ: اقْرَؤُوا إنْ شِئْتُمْ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ رواه البخاري.
Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah: ‘Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang mata.’ (QS. As-Sajdah: 17).” (HR. Bukhari)
Dalam hadis lain Nabi menjelaskan bentuk kenikmatan surga yang bersifat abadi seperti, tidak ada lagi sakit, tua, atau kematian di dalamnya:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمْ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ رواه مسلم
Artinya: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Seorang penyeru akan menyerukan (pada ahli surga): ‘Sesungguhnya kalian akan senantiasa sehat dan tidak akan sakit selamanya! Sesungguhnya kalian akan senantiasa hidup dan tidak akan mati selamanya! Sesungguhnya kalian akan senantiasa muda dan tidak akan menua selamanya! Dan sesungguhnya kalian akan senantiasa dalam kenikmatan dan tidak akan sengsara selamanya!’ Itulah makna firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Dan diserukan kepada mereka, ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’ (QS. Al-A’raf: 43).'” (HR. Muslim)Demikianlah janji Allah kepada mereka yang memiliki jiwa yang tenang. Semoga kita menjadi hamba Allah yang masuk dalam golongan jiwa yang tenang. Wallahua’alam.