Saat sedang tidur tubuh manusia berada dalam kondisi kesadaran yang rendah, hal ini karena ketika tidur tubuh manusia melakukan recover atau pemulihan terhadap jaringan-jaringan di dalam tubuh, namun di sisi lain otak manusia masih tetap aktif karena pada saat itu otak tengah memasuki fase kehidupan lain, alam bawah sadar. Dalam perspektif Islam, tidur bukan sekedar istirahat fisik, tapi juga al-wafat al-Sughra (kematian kecil), yaitu penyerahan diri seutuhnya kepada Allah dan hanya Dia yang dapat menentukan apakah kita akan bangun kembali atau perjalanan kita berakhir di atas pembaringan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Zumar [39]: 42
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى [الزمر: 42]
Artinya: “Allah memegang jiwa (orang) pada saat kematiannya dan memegang jiwa (orang) yang belum mati ketika dia tidur; lalu Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)
Bagi seorang Muslim sejati penyerahan diri kepada Sang Khaliq merupakan momen yang istimewa, sehingga diperlukan berbagai ketentuan atau adab. Rasulullah Saw sebagai suri tauladan umat Muslim telah mengajarkan berbagai adab sebelum tidur, berikut adab-adab yang diajarkan Rasulullah Saw:
- Mengibaskan Kasur/Tempat Tidur sebelum Berbaring
عن أبي هريرة أن رسول الله قال: إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَأْخُذْ دَاخِلَةَ إِزَارِهِ، فَلْيَنْفُضْ بِهَا فِرَاشَهُ وَلْيُسَمِّ اللَّهَ، فَإِنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا خَلَفَهُ بَعْدَهُ عَلَى فِرَاشِهِ
Artinya: “Jika salah seorang dari kalian beranjak ke tempat tidurnya, maka peganglah ujung kainnya, lalu kibaskanlah pada tempat tidurnya, dan sebutkanlah nama Allah, karena dia tidak tahu apa yang telah menggantikannya sesudahnya pada tempat tidurnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Praktik mengibaskan tempat tidur yang diperintahkan baginda Nabi sejatinya bukan sekedar ritual agama, tapi juga menunjukkan sikap kepedulian terhadap kebersihan dan lingkungan sekitarnya karena perbuatan tersebut dapat menghilangkan debu, kotoran, remah-remah makanan, atau bahkan serangga kecil yang mungkin berada di permukaan tempat tidur. Sedangkan dalam bingkai agama, mengibaskan tempat tidur adalah bentuk ikhtiar seseorang menjauhkan diri dari gangguan makhluk tidak terlihat seperti dari bangsa jin, yang mungkin menempati atau melewati tempat tidur. Praktik yang diajarkan Nabi tersebut merupakan perpaduan antara kebersihan fisik dan keyakinan spiritual, dua perpaduan yang sangat indah yang diajarkan agama kita.
- Membaca Tiga Qul (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas) dan Mengusapnya ke Wajah dan Tubuh
Anjuran membaca tiga qul sebelum tidur disampaikan langsung oleh Sayyidah Aisyah ra dalam hadis yang diriwayatkn oleh Bukhari dan Muslim:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا آوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: Dari Aisya Ra, “Bahwasanya Nabi SAW apabila mendatangi tempat tidurnya setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya kemudian meniup keduanya dan membaca: ‘Qul Huwallahu Ahad,’ ‘Qul A’udzu bi Rabbil Falaq,’ dan ‘Qul A’udzu bi Rabbin Nas.’ Kemudian beliau mengusapkannya ke bagian tubuhnya semampunya, dimulai dari kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukan itu tiga kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tiga qul ataul dikenal sebagai zikir sebelum tidur yang sangat masyuhur di kalangan umat Muslim. Jika seseorang memahami makna ketiga surat tersebut, maka dia akan memahami esensi dari anjuran membaca surat-surat tersebut—surat al-Ikhlas mengingatkan seseorang terhadap keesaan Allah, sedangkan dua surat terakhir, al-Falaq dan al-Nas, mengingatkan seseorang untuk selalu mencari perlindungan hanya kepada Allah. Secara tidak langsung tiga qul merupakan bentuk penyerahan diri seorang hamba yang sudah dijamin oleh Sang Pemilik Kehidupan.
- Berwudu sebelum Tidur dan Berbaring ke Sebelah Kanan
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa tidur adalah Kematian Kecil, sehingga sebelum memasuki fase tersebut nabi menganjurkan agar umatnya dalam keadaan suci dan berada dalam posisi tidur yang baik. Seperti hadis yang disampaikan oleh al-Bara’ bin ‘Azib:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ، فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ، فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka berwudu’lah sebagaimana wudumu untuk salat, kemudian berbaringlah di atas sisi kanan tubuhmu. Kemudian bacalah: ‘Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.’ Maka, jika engkau meninggal pada malam itu, engkau meninggal di atas fitrah (kesucian). Dan jadikanlah doa ini sebagai ucapan terakhirmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)Jika shalat merupakan pertemuan hamba dengan Allah dalam keadaan sadar, maka tidur dapat dikatakan sebagai pertemuan hamba dengan Allah dalam keadaan tidak sadar. Sudah seyogyanya seorang hamba dalam keadaan suci sebelum memasuki dua fase tersebut dengan berwudhu’ karena wudhu tidak sekedar membersihkan diri dari kotoran, tapi juga mensucikan diri dari hadast (kotoran yang tidak terlihat). Menurut Ibnu Hajar dan Ibnul Qayyim, di antara alasan perintah berbaring di atas sisi kanan tubuh adalah mencegah tidur terlalu pulas, jantung tidak mendapatkan tekanan secara berlebihan sehingga organ-organ lain yang berada dalam posisi lebih rileks, dan membuat seseorang tidur dalam keadaan yang lebih nyaman. Hikmah lain dari posisi tidur seperti ini adalah akan memudahkan seseorang bangun tidur lebih awal dan dapat melaksanakan salat tahajud. Pada akhirnya setiap sunah yang diajarkan Rasulullah ﷺ sebelum tidur adalah permata hikmah yang menuntun kita pada kesempurnaan adab dan spiritualitas.