Niat bukan pikiran sesaat, tapi ia adalah kebenaran fundamental yang melampaui kasat mata. Sekilas bentuk niat adalah bahasa qalbu. Walaupun aktivitas niat sulit dideteksi, namun sebenarnya niat memberikan efek yang sangat luar biasa terhadap aktivitas tubuh manusia. Hal ini karena niat akan mendorong anggota tubuh untuk melakukan aktivitas sesuai arahan hati dan niat juga memberi dampak terhadap psikologi seseorang. Di dalam syari’at Islam, niat bukan sekedar bahasa qalbu, tapi bukti kepatuhan seorang hamba terhadap Sang Penciptanya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari di bawah ini:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (رواه البخاري)

Artinya : Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR.Bukhari).

Menurut sebagian ulama kata a’mal (perbuatan) memiliki dua penafsiran, pertama; amal perbuatan syar’i yang berkaitan dengan amal ibadah. Hal ini bermakna jika seseorang tidak melakukan niat dalam praktek ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan lain-lain, maka amal ibadahnya akan tertolak. Kedua: amal perbuatan atau yang berkaitan dengan rutinitas, maksudnya seseorang tidak akan diberi pahala oleh Allah saat melukakan rutinitas sehari-hari kecuali dengan menyertakan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Tajuddin As-Sam’ani dalam kitab al-Badru al-Munir bahwa amal perbuatan yang bukan termasuk ibadah pun bisa mendatangkan pahala jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, misalnya makan dan minum jika diniatkan untuk mendapatkan kekuatan sehingga bisa beribadah. Tidur jika diniatkan untuk mengistirahatkan badan agar kuat beribadah serta berhubungan suami istri (jima’) jika dimaksudkan untuk menjaga diri dari perbuatan keji (zina). Sungguh umat muslim berada dalam kesia-siaan jika tidak mengamalkan hadis tersebut, karena rutinitas yang dianggap sebagai aktivitas biasa sebenarnya adalah lautan ibadah tanpa ujung.

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad menganggap bahwa hadis tentang niat merupakan sepertiga dari ilmu, Imam bayhaqi menjelaskan: hal ini dikarenakan dalam setiap ibadahnya seorang mukmin selalu melibatkan hati, lisan dan anggota tubuh, dan niat satu dari tiga bagian itu. Bahkan tanpa niat amal ibadah bisa tertolak, sedangkan niat tanpa amalan masih diganjar pahala, karena ada hadis berbunyi: “Barang siapa berkeinginan (berniat) melakukan kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barang siapa berkeinginan (berniat) melakukan keburukan, tetapi tidak melaksanakannya, maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa pentingnya peranan hadis tentang niat sehingga melahirkan 77 pembahasan fikih yang melibatkan niat. Sebagian ulama bahkan menganggap hadis di atas mencakup sepertiga dari Islam. Hal ini karena hadis tersebut menjadi penjelasan paling awal ketika berbicara Tauhid, Fikih dan tawasuf, sehingga tidak heran mengapa para ulama terdahulu menjelaskan panjang lebar tentang niat di awal pembahasan kitab mereka seperti yang dilakukan oleh imam Abu Abdillah Al Bukhari dalam kitab beliau Shahih Al Bukhari.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa agama Islam sangat menekankan niat dan keikhlasan dalam beramal dan beraktivitas hanya untuk mendapatkan ridha dan pahala dari Allah. Hadis di atas juga menekankan bahwa risalah agama ini bukan tentang kuantitas amalan yang dapat dilakukan seorang hamba namun juga seberapa berkualitas amalan dan keikhlasan yang dimilikinya. Hal ini senada dengan sabda baginda nabi yang berbunyi  ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian.’ (HR.Muslim). Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *