Pernahkah merasa sendirian? seolah tak ada yang benar-benar mengerti apa yang sedang kamu rasakan atau apa yang ingin kamu raih? Terkadang, beban di hati terasa begitu berat hingga sulit mengungkapkannya, seperti dunia ini tiba-tiba menjadi hampa dan tak seorang pun peduli. Di saat momen-momen krusial seperti itu, penting untuk diingat bahwa Allah SWT selalu ada untuk seluruh hamba-Nya. Dia memahami setiap perasaan hamba-Nya, bahkan melampaui kemampuan kita dalam memahami diri sendiri. Hal ini ditegaskan langsung oleh Allah dalam firman-Nya QS. Qaf [50]: 16:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya: ‘Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’.
Pada ayat di atas Allah menegaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dari ketiadaan hingga menjadi ada. Karena Allah adalah pencipta, maka secara mutlak Allah Maha Mengetahui segala hal tentang diri kita. Pengetahuan Allah tentang manusia bahkan meliputi hal-hal yang tidak terucap oleh lisan, seperti bisikan hati atau gumaman dalam diri. Hal ini menunjukkan bahwa sekecil apa pun pikiran atau perasaan yang terlintas di benak kita, tidak ada yang luput dari pengetahuan dan pengawasan Allah SWT.
Kedekatan Allah: Bukan Fisik, tapi Kedudukan
Setelah menjelaskan kesempurnaan pengetahuan-Nya kemudian Allah SWT menjelaskan betapa dekat antar Dia dan hamba-Nya. Dalam menjelaskan kedekatan tersebut Allah menggunakan perumpamaan ḥablil-warīdī (urat leher). Istilah ini tidak sekedar menujukan kedekatan, tapi juga kedekatan yang hampir mustahil dipisahkan. Hal ini karena urat leher merupakan bagian yang sangat vital dan tidak terpisahkan dari tubuh manusia; ia mengalirkan darah dari jantung ke otak. Perumpamaan ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan pencipta-Nya dan Dia adalah sumber dalam kehidupan setiap manusia. Namun penting untuk dipahami bahwa ayat tersebut tidak menujukan Allah memiliki fisik atau menyatu dengan manusia, pemahaman seperti ini bukanlah bagian dari akidah Islam.
Seperti yang dijelaskan oleh Imam Muhammad Murtadha Az-Zabidi dalam kitab Ithafus Sadatil Muttaqin Lisyarhi Ihya Ulumiddin, kedekatan yang dimaksud adalah qurbu manzilah (dekat secara kedudukan), bukan qurbul makani (dekat secara fisik), maksudnya Allah Maha Dekat dengan hamba-Nya dalam hal pengawasan, penjagaan, dan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu. Pendapat ini diperkuat oleh ayat lain dalam QS. Al-Alaq [96]: 19:
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب
Artinya: “Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).”
Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadis:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Atinya: “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah dalam keadaan dia sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)
Dari ayat dan hadis ini, dapat dipahami dengan jelas bahwa kedekatan Allah dengan hamba-Nya bukanlah kedekatan secara Dzat atau fisik, melainkan dekat secara pengawasan, penjagaan, dan pengetahuan-Nya yang meliputi segala hal. Setelah mengetahui bagaimana dekatnya Allah dengan hamba-hamba-Nya masihkah kita merasa sendirian di dunia ini dan berusaha menyelesaikan segala persoalan kehidupan seorang diri?. Wallahu’alam