Di dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah sering menegaskan bahwa dirinya bersama hamba-hambanya. Konsep ini disebut sebagai ma’iyyatullah yang artinya bahwa Allah bersama orang-orang yang terpilih. Ayat-ayat yang menjelaskan ma’iyyatullah sangat sering terulang di dalam Al-Qur’an seakan Allah tahu bahwa manusia sering lupa bahwa diri-Nya selalu bersama hamba-hambanya. Pernahkah kita benar-benar merenungkan kedekatan Allah bersama hamba-hamba-Nya? Seandainya kita benar-benar yakin bahwa Allah selalu membersamai kita, niscaya kita akan menjalani hidup ini tanpa rasa takut dan khawatir sedikit pun. Keyakinan seperti ini mungkin terdengar ideal, tapi bukan mustahil untuk digapai. Mari simak kisah-kisah para nabi yang diuji dengan cobaan luar biasa, namun keyakinan mereka kepada Allah tidak pernah goyah.
Kisah Nabi Musa: Keyakinan di Lautan Terjepit
Salah satu kisah Al-Qur’an yang paling ikonik adalah kisah Nabi Musa yang dikejar oleh Firaun dan bala tentaranya. Pada saat itu Nabi Musa dan para pengikutnya sudah berada di tepian laut merah sedangkan para musuh semakin dekat di belakang. Para pengikut Nabi Musa menyeru, ‘Kita pasti akan tertangkap!’. Keadaan yang sangat menegangkan tersebut digambarkan oleh Al-Qur’an melalui ayat,
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
(Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul). (QS. Asy-Syu’ara: 61).
Frasa إِنَّالَمُدْرَكُونَ dengan lam taukid menggambarkan keputusasaan yang sangat mendalam, mereka yakin tak ada jalan keluar; lautan di depan tak bisa dilewati, dan Firaun akan segera menangkap mereka.
Namun, di tengah ratapan putus asa kaumnya, keyakinan Nabi Musa tak tergoyahkan. Dia tahu Allah Maha Kuasa, Nabi Musa pun membalas ucapan kaumnya dengan penuh keyakinan: ‘Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ (QS. Asy-Syu’ara: 62). Jawaban Nabi Musa bersumber dari keyakinan ma’iyatullah karena Allah yang telah mengamanahkannya untuk berdakwah dan menyelamatkan Bani Israil dari penindasan Firaun, sehingga tidak mungkin Allah membiarkannya sendiri, apalagi mengingkari firman-Nya. Ia sungguh-sungguh meyakini bahwa Allah tak pernah jauh dari hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan benar saja, lautan pun terbelah, mengantarkan mereka pada keselamatan.”
Di Balik Dinding Gua, Allah Menyertai
Kisah Al-Qur’an yang menceritakan tentang ma’iyatullah lain dapat dilihat dari kisah Hijrah Rasulullah SAW. Pada saat itu Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di dalam Gua Tsur dari kejaran kaum kafir Quraisy, Abu Bakar pada saat itu sangat khawatir jika tempat persembunyian mereka diketahui oleh kaum Quraisy, dia pun berbisik kepada Nabi Muhammad : “Ya Rasulullah, seandainya salah satu dari mereka melihat ke bawah kakinya, pasti mereka akan melihat kita.” Nabi menangkap kekhawatiran di wajah Abu Bakar, dengan tenang dan penuh keyakinan Nabi Muhammad merespon kekhawatiran tersebut:
… لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Artinya: “…Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Rasa khawatir di wajah Sayyidian Abu Bakr seketika sirna ketika QS. At-Taubah: 40 turun karena ayat tersebut adalah penenang bagi jiwa yang bergejolak. Seakan Allah mengatakan kepada hambanya, sekalipun manusia tidak menolong, Allah pasti akan menolong. Frasa (إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا) dalam ayat tersebut bermakna pertolongan, pemeliharaan, penjagaan, dan perlindungan dari-Nya. Dan benar saja, bukti pertolongan Allah SWT datang dengan cara yang tak terduga. Saat kaum kafir Quraisy sampai di mulut gua, mereka melihat sarang laba-laba yang utuh menutupi pintu gua. Pemandangan ini membuat mereka yakin bahwa tidak mungkin ada orang yang masuk ke dalam gua, padahal Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar berada tepat di dalamnya. Ini adalah mukjizat kecil yang menunjukkan bagaimana Allah dapat menolong hamba-Nya dengan cara yang paling sederhana sekalipun, melalui makhluk-Nya yang paling lemah.
Mari kita belajar dari kisah Nabi Musa dan Rasulullah SAW. Tanamkan keyakinan yang kuat bahwa Allah Maha Mampu atas segala sesuatu. Dia yang menghadirkan ujian, Dia juga Maha Mampu Memberi Pertolongan. Dengan keyakinan ini, kita bisa menghadapi setiap tantangan hidup dengan lebih tenang dan optimis, mengurangi kekhawatiran yang berlebihan, dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur. Wallahu’alam