Seringkali kita mendengar pepatah, “Diam itu emas,” Lebih dari sekadar ungkapan bijak, kalimat ini menyimpan makna yang sangat dalam terutama dalam konteks ajaran islam. Diam mengingatkan kita untuk menahan diri dari berbicara, kecuali jika ada kebaikan di dalamnya.
Pentingnya menjaga lisan telah ditekankan oleh Rasulullah SAW:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ” (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah Ra beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini secara tidak langsung menjadi prinsip bagi seorang muslim ketika berinteraksi dengan orang lain. Seorang muslim yang imannya benar-benar terpatri di dalam jiwa sangat memperhatikan ucapannya karena dia meyakini bahwa segala ucapan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak. Diam atau menahan diri dari berbicara jika tidak ada kebaikan. Ini bukan berarti tidak boleh berbicara sama sekali, melainkan setiap perkataan harus membawa manfaat atau kebaikan, bukan kemudaratan.
Menyesal karena Lisan, Bukan karena Diam
Sayyidina Umar bin Khattab ra, pernah berkata, “Aku tidak pernah sekalipun menyesal karena diam, tetapi aku sering menyesal karena berbicara.” Ungkapan tersebut seperti alaram waspada untuk kita yang hidup di era digital di mana semua orang mendapatkan panggung bebas untuk berbicara yang berakhir dengan penyesalan. Lidah memang tak bertulang, namun dampaknya bisa begitu mendalam, melukai hati, bahkan memutuskan tali silaturahmi. Sebagai generasi yang melek digital kita harus paham bahwa bicara bukan sekedar menyampaikan argumen, tapi harus berlandaskan kecakapan ilmu, pengalaman dan memahami konteks lawan bicara.
Di akhirat kelak, setiap huruf yang kita ucapkan akan diminta pertanggungjawabnnya. Banyak berbicara, apalagi tanpa arah yang jelas, seringkali menggiring kita pada dosa-dosa lisan seperti ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba). Dua penyakit hati ini bisa menghancurkan tatanan sosial dan memicu permusuhan. Begitu besar dampak negatif ketika tidak menjaga lisan, hal ini menjadi pengingat bahwa lisan adalah amanah yang sangat besar.
Diam Adalah Seni yang Penuh Keutamaan
Diam adalah sebuah seni yang mengandung banyak keindahan dan keutamaan karena diam merupakan عبادة من غير أناء (ibadah tanpa lelah) karena tidak membutuhkan usaha fisik seperti salat, puasa, sedekah, dan lainnya. Saat memilih diam dari perkataan yang sia-sia sebenarnya sedang beribadah, menjaga diri dari dosa, dan memberikan waktu bagi hati untuk berzikir dan merenung. Diam juga merupakan زينة من غير حلية (perhiasan tanpa embel-embel), maksudnya seseorang yang memilih diam dari perkataan yang tidak perlu akan memancarkan pesona. Diam bukan berarti kosong, melainkan penuh dengan kebijaksanaan dan ketenangan. Ia adalah perhiasan yang tidak perlu dihiasi lagi, karena keindahannya terpancar secara alami dari sikap menahan diri dan berpikir sebelum berucap.
Di sisi lain, seseorang yang tenang dan tidak banyak bicara memiliki kewibawaan yang lebih tinggi atau disebut dengan هيبة من غير سلطان (wibawa tanpa jabatan). Orang yang memilih diam cenderung memproses dan merenungkan informasi yang didengarnya terlebih dahulu. Ketika mereka akhirnya berbicara, perkataan mereka akan penuh dengan pertimbangan, makna, dan kebijaksanaan, sehingga lebih didengar dan dihormati.
Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi bekal berharga dalam menjaga interaksi kita menjaga lisan dari hal yang sia-sia, dan bertutur kata pada hal-hal yang bermanfaat, dan semoga lisan kita senantiasa menjadi sumber kebaikan dan keberkahan baik bagi diri sendiri maupun orang di sekitar kita.