Hiruk-pikuk kehidupan modern sering kali menenggelamkan manusia dalam kecemasan, keputusasaan dan kebingungan arah tujuan hidup. Perasaan-perasaan tersebut membuat manusia kehilangan jati diri dan pada tahap yang paling krusial berujung pada mengakhiri hidupnya sendiri. Hal tersebut terjadi karena kebanyakan manusia modern sibuk mengejar sesuatu yang sifatnya sementara dan hanya mengandalkan kemampuan diri dalam menjalani kehidupan ini. Mereka berpikir bahwa apa yang mereka dapatkan selama ini seperti, uang, jabatan, ketenaran, koneksi dan kepintaran adalah segalanya dan hal-hal tersebut didapatkan melalui jerih payah mereka, tidak ada campur tangan Allah, sehingga apabila pencapaian tersebut lenyap, manusia modern sering kali merasa jatuh dalam jurang kerugian dan penyesalan yang sangat dalam. Hal ini bukan berarti manusia modern tidak paham bahwa jatuh dan bangun merupakan hukum mutlak dalam kehidupan, melainkan sebagian mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi terpaan ombak kehidupan.

Sungguh besar kasih sayang Allah kepada seluruh penciptaan-Nya karena Allah telah mengajarkan kepada manusia melalui Kalam-Nya dan lisan Nabi-Nya bagaimana tetap tenang menjalani kehidupan walaupun cobaan datang silih berganti. Konsep tersebut dikenal dengan tawakal.

Defenisi Tawakal dan Janji Allah Bagi Orang yang Bertawakal

Tawakal adalah sikap berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah mengerahkan segala usaha dan upaya terbaik. Ini bukan berarti pasrah tanpa berbuat apa-apa, melainkan meyakini bahwa hasil akhir adalah ketetapan Allah, dan Dialah sebaik-baiknya tempat bergantung. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menegaskan bahwa tawakal adalah kejujuran hati dalam bersandar kepada Allah Azza wa Jalla dalam meraih kebaikan dan menolak keburukan, baik urusan dunia maupun akhirat. Seorang mukmin yang telah sampai pada level ini akan mempercayai rencana Allah, berprasangka baik kepada-Nya, dan menyerahkan urusan hanya kepada-Nya.

Q.S al-Talaq [65]: 2-3, menegaskan  bahwa takwa menjadi kunci utama untuk mendapatkan solusi dari masalah dan rezeki yang melimpah, sekaligus menunjukkan bahwa Allah akan selalu menjadi penjamin bagi hamba-Nya yang berserah diri.

ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّه مَخْرَجًا

Artinya: “…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِه قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Kata makhrajā pada Q.S al-Talaq [65]: 2 adalah salah satu bentuk ganjaran yang Allah berikan kepada orang-orang yang bertakwa. Menurut Ibn Abbas makhrajā (jalan keluar) dalam konteks ayat ini bermakna  jalan keluar dari berbagai keraguan dunia, dari dahsyatnya kematian, dan dari kesulitan hari kiamat. Sedangkan menurut Imam Kusyairi, makhrajā bermakna pertolongn Allah yang bersifat tadbir dalam artian, jika hamba dihadapkan oleh masalah, maka Allah yang akan menyelesaikan masalah tersebut untuknya dan akan memberikan pemahaman makna dibalik cobaan tersebut. Imam Kusyairi kemudian melanjutkan bahwa Allah juga akan menjaga orang-orang yang bertakwa dari hal remeh-temeh yang tidak bermanfaat sehingga waktunya tidak terbuang sia-sia dan hati dan pikirannya lebih tenang.

Dan pada Q.S al-Talaq [65]: 3, Allah akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak diduga kepada mereka yang bertawakal kepada Allah. Maksudnya Allah akan menjadi penolong yang sempurna terhadap apa pun yang menjadi perhatian atau kekhawatirannya. Allah juga akan mencukupi segala kebutuhannya dan melindunginya dari hal-hal yang menyulitkan. Penafsiran Ibn Abbas dan Imam Kusyairi di atas menunjukkan bahwa jika seorang hamba bertawakal kepada Allah, maka seluruh kehidupannya dijamin oleh Sang Pemilik Kehidupan, jika demikian adakah yang lebih nikmat dan mudah dibanding ini?. Bahkan jaminan ini ditegaskan Nabi Muhammad dalam sebuah hadis:   

عن عمر بن الخطاب –رضي الله عنه- قال: قال رسول الله –صلى الله عليه وسلم-:” لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا) ”رواه الترمذي والنسائي(

Artinya: Diriwayat dari Umar bin Khattab. ra, Rasulullah Saw bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Buah Manis dari Tawakal

Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa ada begitu banyak kebaikan dan manfaat yang diperoleh jika seorang hamba berusaha untuk bertawakal kepada Allah, antara lain:

  1. Dicintai Allah, sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam QS. Ali-Imran [3]: 159: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” Bukankah ini tujuan tertinggi kita sebagai makhluk ciptaan-Nya?
  2. Kehidupan terbaik di akhirat, yang termaktub dalam QS. Al-‘Ankabut [29]: 59: “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sungguh akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
  3. Ketetapan hati pada kebenaran,sudah tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang bertawakal kepada Allah akan memperoleh kemantapan hati ketika dihadapkan dengan pilihan tertentu, hal ini karena Allah sendiri yang membimbing dia dalam menentukan pilihan.
  4. Semakin teguh di jalan kebenaran, hal ini Allah tegaskan dalam QS. Al-Naml [27]: 79 “Maka bertawakallah kepada Allah; sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran  yang nyata.”
  5. Rezeki yang melimpah, sebagaimana hadis yang nabi Nabi Muhammad sampaikan sebelumnya, Allah akan menjamin rezeki orang-orang yang bertakwa seperti burung yang pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.
  6. Terlindung dari tipu daya setan, sesuai firman Allah dalam QS. al-Nahl [16]: 99

إنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

 “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaan baginya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan mereka.”

Demikianlah janji Allah kepada orang-orang  yang bertawakal. Perjalanan menjadi insan yang bertawakal tidaklah mudah, ia membutuhkan kesabaran yang luas dan seni pertahanan diri yang kuat. Semoga kita menjadi Hamba-Nya yang selalu bertakwa dan bertawakal kepada-Nya. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *